Siapa sih gw?
Blog Teman
Situs2 Yang Wajib Dikunjungi
Tag
ShoutOuts



Kontak
Dili dalam 3 hari....
Wednesday, November 23, 2011 / 2:12 PM


Akhir September 2011, tepat sebelum tahun fiskal di kantor saya berganti, saya harus berobat ke Kupang karena mengalami kram pada rahang dan sakit sesekali pada bagian punggung. Jadi berbekal surat rujukan dari dokter di Kalabahi, saya menuju Kupang. Setelah 3 hari mengantri dan berobat di RS W.Z. Johannes Kupang (maklum sistem antrian dan pelayanan di RS pemerintah agak-agak luar biasa tidak efisien dan lama), saya mendapat anjuran dari dokter poliklinik syaraf untuk beristirahat 3 hari dan mengkonsumsi obat tertentu. Berhubung obat yang harus saya minum itu stoknya tidak tersedia di Kupang, dan masih harus memesannya di apotik satu-satunya di Kupang yang menyediakan obat tsb, saya berpikir bagaimana caranya menghabiskan waktu selama 3 hari menunggu obat saya sampai datang.

Tanpa sengaja saya bertemu rombongan teman2 WVI Sumba Barat di KFC Flobamora Mall dimana mereka mengajak saya untuk menjelajahi Dili dalam 3 hari, saya terbius dan mengiyakan. Untungnya saya bawa passport dan kamera, kalau tidak, saya pasti tidak mau. Maklum, setelah saya mengSMS seorang teman di Darwin yang dahulu pernah bekerja di TimLes, saya terperangah karena dia menyebutkan harga minimal USD 20/malam untuk losmen yang sangat jelek. Waduh, bisa bangkrut saya... maklum kebiasaan jalan2 ala backpacker yang kebiasaan pake jasa menginap di member couchsurfing. Akhirnya saya coba dulu mencari tumpangan disana via couchsurfing.
Hasil searching saya di member couchsurfer TimLes membuahkan hasil, seorang lelaki Portugis bersedia menampung saya selama 2 malam di rumahnya. Rencananya, saya akan menginap di rumah teman dari teman2 Sumba Barat disana untuk malam ketiga. Jadi, saya akan memulai petualangan saya sendiri...

 Hari 1
Akhirnya, saya nekad pergi duluan kamis pagi karena rombongan Sumba Barat baru akan pergi Kamis malam ke Atambua dan lanjut ke Dili Jumat pagi. Saya memesan bangku di Timor Travel (telp 0380 - ) seharga Rp 185.000,- dan dijemput jam 5.30 di rumah seorang teman dimana saya nebeng di Kuanino.Saya mendapat bangku no 1 di samping supir. Asik nih, bisa foto2 dengan leluasa:-D
Jam 7 kurang kami tiba di pool Timor Travel untuk membayar tiket dan mendapat kotak snack. Perjalanan Kupang - Atambua memakan waktu sekitar 8 jam karena berhenti di kecamatan Niki-niki untuk makan siang, dan berhenti di pool Timor Travel di Soe dan Atambua. 


Perjalanan dimulai, saya menegak sebutir Antimo karena sudah lama tidak menempuh perjalanan Kupang - Atambua dengan jalannya yang terkenal "the long and winding roads" dan bisa membuat orang mabok/muntah. Alhasil saya terlelap nyaris di sepanjang perjalanan, dan baru terbangun pas kami berhenti di Niki-niki, kota kecamatan kecil antara Soe dan Kefamenanu untuk makan di resto Padang. Saya yang kebetulan memesan KFC delivery malam sebelumnya memesan teh hangat dan memakan bekal saya.

Saya kembali terbangun di Kefa dan mengingat kembali setiap memoar di tempat saya pernah tinggal selama 1 tahun ini (Oct 2005-2006). Ah, jadi kangen teman2 sekerja di masa lalu. Perjalanan lanjut dan kami berhenti di kantor Timor Travel Atambua dimana ada penukaran kurs dollar ke rupiah dsb bagi penumpang yang belum punya USD (ratenya cukup bagus dibanding jika menukar di bank Mandiri di perbatasan Motaain nanti). Kebetulan masih ada beberapa lembar USD sisa perjalanan backpacker saya ke India tahun lalu yang belum saya tukar, jadi saya tidak jadi menukar uang. Disini, saya bertemu dengan teman kerja waktu di Kefa dulu, Mio. Mio memberitahu saya tehnik2 untuk mengirit uang di perbatasan nanti : isi sendiri form visa (bisa irit Rp 5rb - untuk bayar calo), angkut barang sendiri (kalo ga banyak2 sih gpp, kuli kena Rp 5rb dan ada kuli anak2! - eksploitasi anak nih!) dan ambil 2 form visa pas di imigrasi TimLes (untuk pergi dan pulang sehingga ga repot mengisi form pas pulang dari sana).
Mio juga memberi nama beserta no telepon seorang teman dimana ia sering menginap kalau dia bepergian ke Timor Leste, namanya Abetuu. Kata Mio saya bisa menginap disana seandainya tidak ada orang yang bersedia menampung saya disana. Asik!

Saya melanjutkan perjalanan karena efek obat tidur antimo sudah berkurang, saya mencoba mengobrol dengan seorang nona yang ternyata asli Timor Leste bernama Ade yang duduk antara saya dan om supir. Saya banyak bertanya2 tentang spot wisata disana. Sesampai di perbatasan MotaAin, kami turun dan menyodorkan passport ke kantor polisi disana untuk diperiksa. Baru kami lanjut ke gerbang perbatasan dimana ada proses imigrasi yang mana untuk mengisi kartu imigrasi saja kita disodori jasa calo spesialis mengisi seharga Rp 5rb/kartu. Untung saya sudah diberitahu Mio tentang ini sebelumnya sehingga saya mengambil dan mengisi kartu sendiri dan mendapatkan passport saya dicap tanpa harus membayar 5rb.


gerbang selamat jalan

Kami lalu berjalan kira2 50 meter melewati jembatan perbatasan untuk berganti mobil dengan mobil travel berpelat Timor Leste. Sekitar 100 meteran kami masuk ke penjagaan tentara TimLes, paspor kembali diperiksa, kali ini dengan tentara TimLes yang logat bicaranya nyaris membuat saya terbahak-bahak. Maklum saya teringat lelucon tentang logat tentara TimLes waktu saya bekerja di perbatasan Betun - Timor Leste beberapa tahun silam. Untung saya tidak tebahak-bahak ketika si tentara menanyakan asal usul saya yang orang Batak. Saya orang kedua terakhir yang ditanya2 (padahal org Indonesia lainnya tidak ditanya2, kebanyakan orang Jawa sih), yg terakhir ditanya seorang lelaki asal Taiwan yang dengan susah payah mencoba membenarkan si tentara tentang cara penyebutan namanya. Aya2 wae...

Perjalanan lanjut, kami memasuki daerah imigrasi Timor Leste, disini antriannya ga teratur, kita harus meminta form visa di loket dari petugas karena kadang form yg disediakan di meja udah dimonopoli sama calo sehingga mau ngga mau kita gunakan jasa mereka untuk isi form visa. Tapi harus bayar 5rb. Saya dengan tegas meminta form dari petugas dan mengisinya sambil mengantri, antrian saling serobot (seperti biasa). Saya sudah menyiapkan USD 30 untuk biaya visa. Disana juga banyak calo2 yang menjual USD yang kondisinya lecek2, jikalau ada turis yang lupa membawa USD.
mejeng di depan kantor imigrasi Timor Leste, difoto sama fotografer dari Taiwan, ihiy!
 Memasuki daerah Timor Leste, pemandangan kering kerontang dan gersang terhampar. Mirip dengan daerah Kefa dan Atambua. Tampaknya kehidupan masyarakat TimLes tidak banyak berubah ketika belum merdeka dan setelah merdeka, rumah2 beratap rumbia dan berdinding bebak (dahan pohon lontar) terlihat di kiri dan kanan jalan. Jalanannya rusak di beberapa bagian,  tapi agak mulus sebagian besar. Tetapi menjelang 1,5 jam perjalanan darat, pemandangan pesisir pantai yang cantik mulai terlihat.
Sekitar jam 5 saya memasuki jembatan Komoro di pinggir kota Dili, Joao - si lelaki Portugis tempat saya menginap kelak- mengSMS saya karena saya terlambat bertemu dia di Hotel Timor. Ternyata waktu di Timor Leste berbeda 1 jam lebih cepat dengan waktu di Atambua. Padahal masih satu daratan, aneh... apa nggak sudi waktunya sama dengan Indonesia ya?

Di perjalanan saya bertanya2 ke si supir yang masih bisa bahasa Indonesia (penduduk umur 10thn ke atas biasanya masih bisa berbahasa Indonesia dengan lancar). Dia menunjukkan rumah sederhana milik  "Raul-nya Krisdayanti" sebelum menikah dengan Ata Alkatiri yang berlokasi di Kampung Alor (yup, Alor man!) - pemukiman yg paling banyak orang Indonesia - sambil mengantar penumpang-penumpang yang lain. Dalam bayangan saya, Hotel Timor yang saya tuju untuk bertemu dengan Joao bentuknya seperti hotel melati Timor Hotel yg ada di Atambua, ternyata....ketika sampai di hotel Timor, saya terperangah karena hotel ini hotel paling megah dan mewah di Timor Leste. Saya masuk dengan jeans lusuh, kaos gombrong dan sendal jepit plus ransel ke hotel mentereng langsung ke resepsionisnya untuk menanyakan letak bar, tempat janjian dengan Joao. Si resepsionis melihat tampang backpacker saya dengan agak terkejut (maklum tamu2 lainnya kelihatan modis, trendy dan wangi) tapi akhirnya ia menjawab dengan sopan karena saya menggunakan bahasa Inggris. Saya mampir di toilet sebentar untuk cuci muka dan menyisir rambut (sudah 12 jam lebih terpapar angin jalanan), lalu berjalan dengan tenang ke lobby karena saya melihat bar nya ramai dan sudah pasti minumannya harganya selangit. Tidak ramah untuk kantong cekak saya...


Ketika duduk, saya menyadari bahwa sisa pulsa saya yg sebelumnya Rp 90rb-an tersisa beberapa ratus rupiah sehingga tidak mampu mengirim SMS ke Joao, maklum operator seluler disini - Timor Telecom - biaya SMSnya mahal abis Rp 8rb/SMS dan sejak di perbatasan Motaain saya sudah mulai mengSMS Joao berulang kali tentang posisi saya. Sekarang pulsa saya habis! Omak! Celingak celinguk untuk meminjam HP dari tamu yang ada di sana, mata saya terpaku pada sosok cowok yang sedang asyik memainkan iPhone-nya, dia duduk di dekat saya. Tanpa malu-malu, saya langsung menghampiri dia dan menanyakan apa saya bisa meminjam HPnya untuk mengSMS si Joao. Ternyata bisa, bahkan dia menyilahkan saya untuk memakai HPnya untuk menelepon si Joao. Asik! Obrigado! Joao ternyata masih ada meeting sama kliennya, jadi saya disuruh menunggu sampai jam 18.30 waktu setempat. Si cowok itu ternyata sedang menunggu pesanan cake dari restoran Hotel Timor. Dari tampangnya dan logatnya berasal dari salah satu negara di Afrika, saya tersenyum penuh terima kasih ketika dia lewat sambil menenteng cake besarnya.


Jam 18.30 pas Joao menjemput saya di lobby hotel, setelah berjabat tangan dan cipika cipiki (salam khas TimLes), saya mengikutinya ke mobilnya dan menuju rumahnya di dekat Dili International School, Pantai Kelapa - salah satu pemukiman elit di Dili. Rumahnya ternyata berada kompleks perumahan kecil dimana ada beberapa rumah yang dijaga seorang satpam disana. Rumah mungil Joao terdiri dari 1 kamar tidur, jadi saya disediakan sofa merah empuk yang bisa diubah menjadi tempat tidur plus seprei dan sarung bantal. Saya menaruh barang dan tak berapa lama seorang couchsurfer yang sekarang bekerja kepada Joao datang, namanya Seth, umurnya 21 thn tapi sudah keliling 60 negara di dunia! Kami segera diajak makan malam di sebuah bar Champ; resto di pinggir Pantai Kelapa. Tempatnya enak buat hangout, ada TV besar yg memutar siaran football dan meja bilyard. Karena Seth vegan, jadi kami memesan pizza vegetarian ukuran besar dan orange juice, Joao memesan bir. Sementara Seth memesan bir jahe yang ternyata ginger ale. Kami makan dan cerita2 sampai jam 10 malam lalu pulang ke rumah Joao. Kamar mandinya ternyata bersih dan enak, ada bathtub dgn air panas yay! Karena sudah terlalu capai, saya tidak jadi menonton koleksi DVD Joao yang banyak tersedia, padahal TV dengan seperangkat sound system ciamik ada di hadapan saya.

Hari 2
Bangun pagi, kuterus mandi, trus langsung membuat kopi. Joao baru bangun jam 9 pagi. Dia mendrop saya ke pusat kota untuk menuju kantornya. Saya berjalan2 dari pasar Colmera dan menuju Istana Presiden. Karena kelaparan, saya makan di warung Jawa yang di depan istana presiden (ada warung lho di depan istana), nasi ayam dengan kuah dan es teh USD 1,5. Lumayan murah.
Sehabis itu, saya naik taksi menuju Timor Telecom (USD 1) untuk membeli simcard di dealer resmi. Karena pulsa Simpati saya sudah habis. Ternyata TT sejajar dengan Istana Presiden, 'kehabisan' simcard baru. Mereka menyarankan saya ke TT di Colmera Plaza, aneh ya bisa2nya dealer resmi TT kehabisan simcard baru.... Sampai di TT Colmera Plaza (naik taxi USD 2 - ini overcharged ternyata!), mereka juga awalnya mengaku 'kehabisan' simcard. Saya mulai curiga, apa karena saya menunjukkan paspor Indonesia? Tetapi setelah saya 'mengemis' dan menunjukkan passport (untung jg tampang saya agak rapih, ga gembel2 banget). Si petugas memberikan saya simcard 'sisa' yang ada, dengan harga USD 3, saya membeli pulsa USD 2 sebagai tambahan. Sehabis dari sana, saya naik taksi (USD 1 dari Colmera) menuju rumah teman Mio yang bernama om Abetuu yang terletak di belakang Katedral. Sesampai disana, saya diajak menginap disana di kamar anak perempuannya. Tapi karena 2 orang teman saya dari Sumba Barat belum datang, saya belum bisa memastikan bisa/tidaknya.

Dari sana, saya menuju pasar Tais (Tais Market) untuk mencari suvenir khas TimLes, kali ini dengan naik bemo (angkot) dan membayar 20 centavos - mata uang kecil/koin TimLes. Naik bemo ini musiknya tidak sehingar bingar seperti bemo di daerah NTT yang full dengan sound system menggelegar. Penuh sesak sampai bergelantungan dengan anak2 SD dan SMP yang baru pulang sekolah. Saya sampai di Tais Market. Pasarnya sepi pengunjung, hanya ada 1-2 orang pengunjung yang berpapasan dengan saya di lorong2 pasar. Bahkan kios hanya dijaga 1-2 orang saja.
Aneka barang kerajinan yang dijual disini sebenarnya menarik, tapi harganya yang dalam USD terbilang cukup mahal untuk turis2 Asia. Kalau bagi para bule sih murah...


tenun ikat, aneka asesoris kuningan, anyaman dan ukiran khas TimLes

mama Maria Pareira yang tersenyum ramah di depan kios suvenirnya yg harganya terjangkau



Saya membeli sebuah tas selempang dari mama Maria dengan harga USD 5 dengan motif sulaman ala hippies sebelum melanjutkanke toko2 lain untuk membeli scarf mungil dari tenun ikat bertuliskan Timor Leste seharga USD 1 dan topi bendera Timor Leste seharga USD 2. Tempat sirih unik dengan motif warna-warni juga saya beli dengan harga USD 2. Kios-kios lain menawarkan beragam motif khas daerah-daerah di Timor Leste. Kebanyakan bermotif buaya, sampai muncul istilah crocodili yang mirip crocodile.
tenun ikat motif buaya (paling kiri)
 Ada juga yang menjual replika rumah adat Dili seharga USD 15
replika rumah adat khas Timor Leste, sekilas mirip rumah adat Sumba dan Alor

Aneka kerajinan yang dijual di Tais market memang menggiurkan, tapi berhubung perut sudah keroncongan dan rasa haus melanda, saya memutuskan melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya : Palacio Governo dimana saya berjanji akan bertemu Eny dan Desi.
Saya berjalan kaki dari Tais Market ke persimpangan Colmera dan berhenti di mini market untuk membeli minuman dingin. Sekotak susu coklat dan sebotol jus jeruk dengan harga total 2 USD . Yummy! Sambil ngemper menikmati minuman dingin, saya iseng memperhatikan marka jalan yang berbahasa Portugis dengan nama-nama tempat yang asing seperti Ponte Cape, Matabouro, saya berasa berada di sebuah negara di Amerika Latin sana....
marka jalan dalam bahasa Portugis (bahasa resmi Timor Leste)

Karena teriknya matahari, saya memutuskan naik angkot ke Palacio Governo. Saya turun dan membayar 10 centavos karena jaraknya dekat. Pemandangan pelabuhan nan cantik terhampar di depan saya...
yacht dan kapal nelayan sedang berlabuh di depan Palacio Governo, di kejauhan patung Christo Rei berdiri megah
pesisir pantai depan Palacio Governo, bersih dan tertata rapi

Sambil menunggu Eny dan Desi, saya duduk2 di bangku-bangku taman yang dilengkapi meja yang tersedia di pesisir ini. Teduhnya pohon dan tenangnya suasana walaupun berada di pinggir jalan besar, membuat saya agak mengantuk... Untuk mengusir kantuk, saya memutuskan untuk foto2 keindahan pesisir pantai Dili ini...
Tak berapa lama, SMS dari Eny masuk, mereka sudah ada di seberang pantai, di depan Palacio de Governo. Segera saya menghampiri Eny dan Desy yang ternyata didampingi seorang suster.

Kami memasuki gerbang melengkung yang tidak dijaga siapapun yang ada di depan Palacio de Governo alias Istana Gubernur jaman RDTL masih termasuk provinsi Timor Timur di Indonesia dulu, sekarang tempat tersebut sudah berubah menjadi kantor Perdana Menteri Timor Leste. Setelah bergantian saling memfoto, ternyata kehadiran kami menarik perhatian dua personel UN Police yang sedang duduk2 di mobilnya yang diparkir beberapa meter dari tempat kami berdiri. Mereka menyapa Suster dengan ramah dan salah seorang dari mereka bahkan menawarkan untuk memfoto kami berempat. Kami langsung senang dan berterima kasih. Ternyata mereka berasal dari Kenya dan Filipina... Kami berujar satu sama lain dalam bahasa Indonesia, "Untuk ngedapetin polisi aja mereka harus impor jauh2 dari Afrika sama Filipina yang mana gajinya besar...dan kerjanya duduk2 doang...Benar2 pemborosan.."




Puas berfoto2 di Palacio Governo, kami menyeberang dan menemukan tugu Lotte ini dengan lambang buaya di tengahnya. Kami mencegat taxi dari sini untuk menuju Aeria Branca dimana patung Yesus yang disebut Christo Rei terletak. Karena yang mencegat dan menawar taxi adalah Suster, jadi kami dapat harga sangat murah, yaitu 3 USD (biasanya hrgnya 5 USD). Memang di Dili sini, kehadiran suster dan pastor sangat dihormati oleh penduduk.


Kurang lebih 20 menit perjalanan melalui jalan2 pesisir pantai yang indah, kami sampai di Aeria Branca atau Pantai Pasir Putih yang sudah ditata baik sehingga agak mirip pantai Kuta di Bali. Kawasan itu masih agak sepi, hanya dipenuhi orang2 yang olahraga sore dan sedikit peziarah yang berniat mendaki jalan salib menuju patung Christo Rei.

Karena sudah agak sore, kami tidak bisa menjalani ritual Jalan Salib (Eny dan Desy + Suster penganut Katolik), jadi kami hanya foto2 saja setiap relief perhentian Jalan Salib. Berikut beberapa jepretannya...
























Setelah mendaki tangga yang di sisi kanannya terdapat relief perhentian Jalan Salib, kita sampai di lapangan dimana ada sebuah kapela kecil dan salib besar terpampang....

lapangan dimana ada kapela dan salib besar berdiri

kita harus mendaki ratusan anak tangga spt ini lagi sblm sampai ke patung Christo Rei
Sudah sekitar pukul 5 ketika kami sampai di bawah kaki patung Christo Rei. Saya dan teman2 langsung beraksi dengan kamera masing2. Pemandangan dari kaki patung Yesus yang merupakan salah satu patung Yesus terbesar di dunia setelah di Brazil sangat menakjubkan. Pemandangan sunset terlihat dengan jelas dan disini merupakan salah satu posisi yang baik untuk memfoto keindahan Aeria Branca dari dua sisi; sisi yang sudah tertata dan turistik, sementara sisi yang lain kesannya natural, sepi dan belum terjamah sama sekali oleh pembangunan... Menakjubkan!
 

bandingkan besarnya patung dengan tubuh saya di bawahnya...
 Hari sudah menjelang gelap ketika kami turun dari patung itu dan menuju kapela kecil yang ada di sebelah salib besar. Kami memutuskan meluangkan waktu untuk berdoa sejenak, mensyukuri keberadaan kami yang sehat dan diberkati karena bisa menjejakkan kaki di negeri asing ini...
Sehabis berdoa, kami menuruni ratusan anak tangga menuju pantai Aeria Branca yang saat itu sudah mulai dipenuhi pengunjung pasar malam yang diadakan seminggu sekali. Banyak sekali penjual suvenir khas Timor Leste dan kerajinan tangan lainnya yang membuka stand2 kecil / lapak disini. Mulai dari asesoris seperti anting2, tas dan dompet, perkap rumah tangga seperti tatakan gelas, tampah, besek (tempat sirih) dll. Ada juga penjual makanan yang meramaikan stand2 ini. Mulai dari makanan modern seperti burger, fried chicken dan spaghetti sampai ke makanan khas Timor Leste seperti sayur bunga pepaya, ayam/babi rica, dll, yang mana dimakan dengan ketupat, bukan nasi seperti di Indonesia. Jadi, kalau Anda seorang Muslim sebaiknya menanyakan secara langsung kepada si penjual makanan apa yang dijualnya. Saya akhirnya memesan sate ayam dan Desy serta Eny memesan babi.
saya dengan menu ketupat, sate ayam dan raba2 (urap khas Timor Leste) - semua seharga USD 3,5

penjual suvenir anyaman dengan berbagai macam dagangannya...lucu2 semua!

Sehabis makan, kami berjalan2 untuk berbelanja suvenir, maklum, kami ingin mencegah 'kalap berbelanja' karena belanja dengan perut belum terisi :D
Mulailah kami berpencar sesuai dengan minat masing2, langsung melihat2 tas selempang dari anyaman yang cukup mahal ternyata, USD 8 --hehehe ga rela juga keluar uang segini demi tas anyaman. Akhirnya karena semua barang2 nyaris di atas USD 2, saya memutuskan membeli anting2 dari anyaman berbentuk ayam2an dan rol panjang...lucu dan hanya USD 1/pasang...yay!
Kami menjelajahi semua stand yang berjualan malam itu, mulai dari kaos Crocodili - menyesal juga akhirnya kenapa kami tidak membeli kaos unik ini :( - yang seharga USD 15 (bahannya bagus dan konsep desainnya unik); sampai ke tempat pensil seharga USD 2 dan aneka selendang Timor Leste yang dihargai mulai dari USD 8/helai. Karena duit cekak, saya membeli 3 pasang anting2 masing2 seharga USD 1/pasang,  buah tempat pensil anyaman seharga USD 2 dan besek lucu tempat sirih seharga USD 1. Sebenarnya naksir sebuah tas selempang unik dan clutch lucu dari anyaman juga, tapi harganya ngga ku ku...USD 10 dan USD 8/buah... Puas berbelanja, kami akhirnya jalan2 sebentar untuk menikmati hiburan pasar malam itu, yakni pemutaran film khas layar tancap yang menayangkan film komedi buatan rakyat sendiri tapi dalam bahasa Betun (mayoritas etnis rakyat Timor Leste).
Karena tidak mengerti bahasanya, dengan cepat kami menjadi bosan dan akhirnya foto2 sejenak di air mancur indah di tengah kompleks taman...
 Karena takut taxi semakin mahal kalau kami pulang malam, kami memutuskan pulang dengan menawar taksi yang ada parkir disana, USD 6 dari sini ke Pantai Kelapa (dimana saya nginap di rumah teman CS) lalu lanjut sampai jembatan Komoro (dimana Desy dan Eny tinggal). Saya berpamitan dengan Eny karena besok pagi dia harus sudah pulang ke Indonesia, sementara saya dan Desy masih ada 1 hari lagi untuk tinggal disini :)

Hari 3
Esok paginya, saya dan Desy sepakat bertemu di Katedral Dili untuk foto2 sebentar kemudian mencari sarapan berdua.
patung malaikat2 di gerbang Dili Catedral
Setelah keliling2 ternyata tidak ada toko yang menjual sarapan ala Indonesia (nasi uduk, dsb) ya iyalah...Dili gituh... Kami memutuskan mengisi perut dengan roti di sebuah bakery rumahan, tapi karena harga roti2nya lumayan mahal juga, kami sepakat berbagi sepotong cake yang cukup terjangkau harganya...

sarapan cake seharga USD 2,5/potong di pagi hari - bagi 2 dengan Desy :D
Perjalanan kami lanjutkan ke daerah Colmera, lalu ke Tais Market (lagi) karena Desy ingin mencari kaos bergambar Crocodili yang tidak kami beli semalam. Sayang, di Tais market ini kami tidak mendapatkannya, karena yang dijual cuma kaos2 biasa bermotif bendera Timor Leste...bahannya juga kurang bagus. Namun, Desy akhirnya membeli sebuah kaos seharga USD 11 untuk oleh2 teman kantornya....

Sehabis jalan2 di Tais Market, kami sepakat menuju patung2 monumen yang ada dalam kota, salah satunya Patung Pembebasan Timor Timur yang merupakan prasasti karena Ramos Horta - PM Timor Leste mendapat hadiah Nobel perdamaian. 

Tugu Nobel Perdamaian Ramos Horta
Dari depan monumen ini, kami naik taksi menuju koperasi Cafe Timor Leste produsen kopi legendaris Timor Leste yang kabarnya menjual kopi organik terbaik di Timor Leste (USD 1), lokasinya di dekat Lecidere. Sesampai disana, saya membeli kopi di loket khusus koperasi tersebut yang menjual jenis Arabica dan Robusta. Arabica seharga USD 4,5 untuk ukuran 500 gram. Robusta seharga USD 6 untuk 500 gram.

Dari sana, kami berjalan kaki ke Patung Bunda Maria di Lecidere yang berjarak kira-kira 70 meter dari kantor koperasi.


















Setelah puas foto2 (tidak lama karena panas terik), kami memutuskan makan siang di One More Bar yang terletak di sebelah kiri patung Maria. Saya memesan menu yang paling murah, sandwich tuna seharga USD 4,5 (satu tangkap roti yang dibelah dua + salad sedikit) dan 1 kaleng coke (USD 3).


Lalu, kami menaiki bemo (angkot) menuju Lita Store yang konon menjual kaos khas Timor Leste, kami membayar 10 centavos. Ternyata sesampai disini, kami baru tahu ini adalah supermarket modern yang menjual aneka makanan dan minuman import dari berbagai negara. Pengunjungnya rata2 orang asing dan tidak ada menjual suvenir khas Timor Leste :(
Saya akhirnya hanya membeli 'bir' jahe alias ginger ale buatan Aussie yang sama sekali tidak mengandung alkohol, saya teringat si Seth teman Joao yang mengatakan betapa enaknya minuman ini. Tidak lupa saya membeli sunblock (USD 7,5) karena kelupaan membawanya kemarin...
Di seberang Lita Store, ada pasar tradisional yang tertata rapi dan menarik...harga2nya juga dalam USD lho...

tomat2 yang dijual ukurannya sebesar apel, luar biasa!

Dari sini, kami naik taksi menuju susteran dimana kami diundang makan siang oleh Suster. Sampai di susteran, kami disuguhi Sagiko dingin dan diajak makan siang bersama dengan lauk sup bakso dan sayur nangka...yummy...! Sehabis makan, tidak lupa jus sirsak yang kental dan dingin disuguhkan sebagai dessert... Pelayanan kasih para suster ini memang luar biasa bagi kami :)

Sehabis makan, kami berniat kembali ke Aeria Branca dimana Desy (masih) penasaran dengan kaos bergambar Crocodili semalam... Kami naik taxi dengan harga USD 3 (murah karena dicegat oleh suster sekali lagi) :)
 Melewati stadion nasional Dili


Sampai disana, kami foto2 sedikit di pantai sambil menunggu sore hari dimana kami harap ada pasar malam diadakan kembali...


Areia Branca -pantai berpasir putih


gerbangnya mirip di pantai Kuta, Bali
 Ternyata setelah bertanya kepada mama-mama yang bekerja sebagai tenaga kebersihan di pantai itu, kami mendapat info bahwa Pasar Malam Areira Branca itu hanya diadakan seminggu sekali, pada tiap Jumat malam. Jadi Sabtu malam ini tidak ada lagi pasar malam... tambah kecewa deh kami... Dan bentuk2 anyaman yang unik2 itu hanya didapatkan dari pengrajin dari Komoro yang letaknya cukup jauh dari sini, jadi mustahil kami bisa kesana untuk membeli oleh2 tambahan...

muda mudi Timor Leste sedang berdansa dan belajar menari bersama di gazebo yang ada di Areira Branca
Akhirnya, kami memutuskan kembali ke Komoro karena Desy dan Suster sudah berjanji akan pulang sore hari ke rumah Suster untuk bertemu kangen dengan keluarga Suster.... Sambil lewat, kami singgah di depan Istana Presiden Timor Leste dan berfoto sejenak, tidak ada pengawalan ketat dan garang ala Paspampres seperti di Istana Negara Indonesia. Bahkan ada banyak anak2 muda yang nongkrong sambil main internet melalui fasilitas WiFi yang ada di saung di halaman Istana Kepresidenan ini...

di depan istana Presiden Timor Leste
 Perjalanan kami lanjutkan ke Komoro, dan sesampai disana, kami disambut ramah oleh keluarga Suster dan setelah bercerita sana sini, kami kembali ke kota untuk mengantar kembali suster ke biaranya. Kami menaiki taxi dan lewat di mall yang baru dibangun dan rencananya akan diresmikan Oktober 2011 ini...
Timor Plaza - mall pertama dan satu2nya yg sudah berdiri di Dili

Sesampai di kota, kami mampir di toko yang menjual kaos oleh2 dari Dili, dekat pasar Colmera, toko ini berada 50 meter dari perempatan Colmera. Sebuah toko buku yang menjual aneka majalah dan dikelola orang Chinese. Desy membeli 3 kaos oblong dengan harga USD 12/buah. Saya karena bokek, lagi2 terpaksa mengurungkan niat untuk membelinya. Kaos2nya cukup menarik dan bahannya lebih bagus daripada yang dijual di pasar Tais. Dari situ kami menuju biara, dan berpisah dengan Suster. Selanjutnya saya dan Desy menuju ke pantai Kelapa untuk menikmati suasana nongkrong di Dili...

Benar saja, sesampai kami disana, jalanan mulai padat karena banyak sekali warga Dili yang nongkrong dan makan2 bersama keluarga dan sahabat mereka di sini. Sepanjang jalan Pantai Kelapa ini banyak penjual aneka seafood dan masakan babi plus minuman yang menjajakan makanannya ala kaki lima. Harganya boleh dibilang standar untuk ukuran Dili, tapi cukup mahal untuk kantong Indonesia. Dua ekor cumi panggang dihargai USD 3 dan sebuah ketupat 25 centavos. Seekor ikan bakar dihargai mulai dari USD 2 (yang kecil) sampai yang agak mahal. Ada juga yang menjual ayam bakar dsb...Saya makan seeekor ikan bakar ukuran sedang dan satu buah ketupat - USD 3,25


berbagai jenis makanan laut yang dijual di sepanjang pantai Kelapadi malam hari

 Karena malam semakin larut dan banyak orang berdatangan, kami merasa tidak enak nongkrong lama2 karena banyak orang yang ingin makan juga. Akhirnya selesai makan kami jalan2 sepanjang pantai ini dan foto2 seputar suasana malam di Dili.

Pulangnya, saya dan Desy naik taksi dan Desy mendrop saya di rumah om Abetuu dan dia pulang ke Komoro. Kami berjanji bertemu esok hari di Pool Timor Travel untuk kembali ke Indonesia bersama-sama... Ongkos taxi USD 5 karena harus ke 2 tujuan. Ternyata sesampai saya di rumah, listrik sedang padam dan mama Abetuu sedang duduk2 di teras bersama anak2nya. Saya ikut nimbrung dan malam itu mereka menceritakan betapa sulitnya kehidupan di Timor Leste dengan harga-harga yang serba mahal... Pantesan personel2 UN dan NGO disini gajinya luar biasa tinggi, karena biaya hidup disini sangat amat mahal. Kamar kos basic ukuran 2,5 x 2,5 meter yang disewakan keluarga Abetuu saja dihargai Rp 600ribu/bulan - itu pun kebanyakan dihuni mahasiswa dari kampung2 yang ingin kuliah di Dili. Keluarga Abetuu merasa kasihan dengan mereka sehingga memberikan harga kos2an semurah itu. Sementara kamar2 yang disewakan untuk staff NGO dan UN harganya mulai dari Rp 4 juta/bulan. Di Jakarta harga segini sudah dapat apartemen fully furnished kali....Begitu listrik sudah menyala, saya permisi untuk tidur duluan karena ingin bangun pagi2 mengejar misa paling pagi (kalau sempat ikut)

Hari 4
Pagi pun tiba, saya mandi dan berkemas karena jam 8 harus sudah di kantor Timor Travel. Pagi itu, saya disuguhi 2 buah Paun khas Dili yang sangat terkenal (katanya, semakin lama disimpan semakin enak rasanya) dan segelas teh manis hangat...Mama Abetu memang luar biasa ramah.
paun Dili yang enak untuk sarapan

Sehabis mengisi perut, saya pamit sebentar untuk ke Katedral untuk memfoto bagian dalam interior gereja. Pada waktu kunjungan saya dan Desy kemarin belum sempat karena sedang diadakan Misa Requim untuk pelepasan jenazah seorang pejabat Kementrian Kesehatan Timor Leste.
Saya bergegas masuk ke gerbang, foto2 interior dalam gereja sebelum banyak jemaat masuk dan ibadah  dimulai. Ibadah dimulai jam 8 tepat, namun jam 7 sudah mulai banyak orang berdatangan...
cantiknya interior dalam Katedral Dili

Karena ada tangga menuju lantai 2, saya menaikinya dan menuju ke balkon dimana pemandangan matahari terbit di pagi hari sangat luar biasa...Saya menikmati suasana yang damai disana.

matahari terbit dari balkon Katedral Dili  (patung Maria -kiri dan Patung Yusuf- kanan)

sekeluarga sedang berdoa sebelum misa

Setelah mengambil ransel saya dari kamar, saya berpisah dengan keluarga Abetu dan menaiki taksi yang kebetulan lewat di depan rumah menuju ke kantor Timor Travel. Naik taxi seharga USD 1.
Ternyata sesampai disana, Desy belum datang, dia masih dalam perjalanan dengan motor diantar oleh anggota keluarga Suster. Saya membayarkan harga tiket saya dan Desy masing2 USD 20/orang.

Sambil menunggu saya akhirnya membeli Sagiko 1 rak (USD 12 isi 24 kaleng) untuk oleh2 buat tetangga dan teman2 kantor. Apa itu Sagiko? Sagiko adalah merk minuman kaleng yang isinya adalah sari buah asli/juice. Mirip dengan Minute Maid Pulpy karena banyak serpihan2 buah2annya. Sagiko biasanya dijadikan oleh2 oleh orang2 yang pulang dari Timor Leste, padahal ini minuman kaleng buatan Singapura lho... aneh kan?

Iseng2 saya memperhatikan penjual ikan yang sedang bertransaksi di depan saya dengan seorang ibu. 1 ikat ikan yang terdiri dari 2 ekor seharga USD 2, mahal bener ya...pantesan benar penuturan mama Abetu semalam, gaji 10 juta alias USD 1000 tidak cukup untuk hidup sekeluarga di Timor Leste, itu hanya cukup untuk biaya makan sebulan untuk keluarga beranggotakan 5 orang. Kasihan ya nasib warga Timor Leste dengan semua harga bahan pangan yang ukuran harga bule ini...


 Jam 8. 20 (telat 20 menit) dari perkiraan keberangkatan, minibus yang membawa kami berangkat, kami kedapatan barisan bangku bagian belakang bersama seorang perempuan yang ternyata seorang staff NGO internasional yang ingin pulang liburan ke Kupang :)
Kami asyik bercerita tentang kerjaan masing2, dan bertukaran no hp. Di tengah jalan ban bus kami pecah, saya dan Desy segera mengambil kesempatan ini untuk foto2. Kebetulan kami dekat dengan sebuah bukit pasir yang ada di pinggir laut...beberapa foto2 cantik kami abadikan dengan kamera kami...
Sekitar jam 12 kami sampai di perbatasan Batugade dan kembali harus menunjukkan paspor dan barang2 kami digeledah oleh petugas perbatasan Timor Leste. Selang 20 menit kami selesai berurusan dengan pihak imigrasi di kedua belah negara. Akhirnya saya kembali ke sisi Indonesia dan di Mota Ain melapor diri dengan paspor juga. Jam 1 kami tiba di Atambua dan makan siang di sebuah rumah makan Padang,  dan jam 7 malam kami tiba di Kupang dengan diantar ke tujuan kami masing2...
Demikianlah kisah kami menjelajahi Dili dalam kurang lebih 3 hari :)

Foto2 lebih lengkap bisa dilihat di halaman FB saya : Album Memoravel Dili
https://www.facebook.com/media/set/?set=a.2356077774322.129337.1021538688&type=3

Keluar uang selama di Dili :
Tiket Timor Travel Kupang - Dili : Rp 185.000,-
Tiket Timor Travel Dili - Kupang : USD 20
Visa RDTL 30 hari : USD 30
Makan minum : USD 16 + air mineral 25 centavos/botol
Oleh2 : USD 42 (jangan ditiru nih, kebanyakan belanjanya...hehehe)
Taxi all : USD 21,5
Ongkos bemo all : USD  1 dan 25 centavos
Pulsa + SIM card Timor Telecom : USD 7


Labels: , , , , , , ,


Lembata - pencarian legenda pemburu paus
Thursday, September 08, 2011 / 12:40 PM

Hari 1 : Alor - Kupang (16 jam) dengan ferry
Mendadak saya mendapat cuti 7 hari yang membuat saya bingung ingin melakukan apa. Bagaimana kalau mewujudkan impian saya sejak 2009 yaitu mengunjungi Kab. Lembata? Salah satu diantara sedikit kabupaten (tgl 2 lagi ternyata – Lembata dan Sabu) di NTT yang belum saya kunjungi. Setelah tanya sana sini saya mendapat info bahwa ferry Namparnos dari Kalabahi ke Lewoleba (ibukota kab.Lembata) tidak beroperasi karena libur Lebaran. Ada alternatif transport lain yaitu naik Awu, tapi harus tunggu sampai tgl 1 September 2011 dengan rute Kupang-Kalabahi-Larantuka. Wah cuti saya bisa kepotong 1 hari dong? Akhirnya saya nekad ke Kupang dulu dengan ferry yang memakan waktu 17 jam dan ongkos 78rb(resmi) tanpa dapat makan. Di kapal saya bisa dapat kursi di lokasi VIP yang kurang banyak perokok tanpa harus bayar nambah Rp 20rb, yay! Di tengah jalan saya masih usaha cari cara dari Kupang-Lembata, namun kapal ferry cuma ada Selasa dan Kamis. Belum tahu jadwal berangkat dan sampainya kapan.Walau saya tiba Kamis jam 5 pagi di Kupang, saya akhirnya berusaha mengejar pesawat Susi Air yang saya pesan sebelumnya (telp Susi Air 0811 381 3801 dan 0811 381 3802) seandainya tidak ada ferry.
Antrian tukang ojek, supir bemo, dan kuli yang menunggu masuk ke ferry untuk menggaet penumpang

Hari 2 : Kupang - Lewoleba (dengan Susi Air - 50 menit); Lewoleba - Lamalera (dengan truk - 4,5 jam)
Sampai di bandara El Tari dengan ojek jam 6.30 lewat (Rp 25rb dari kota Kupang, kalo dari pelabuhan ferry lebih mahal) karena menunggu teman angkut2 barang keluar dari ferry, sehingga saya ketinggalan pesawat Susi Air (untung baru booking kalau tidak tiket saya hangus-Rp 813rb) dan terpaksa tunggu sampai jam 10 untuk penerbangan selanjutnya. Saya menghubungi seorang teman di Lembata, Robert, untuk menanyakan dimana saya harus tinggal di Lewoleba dan apa angkutan dari bandara ke Lewoleba. Kebetulan dia masih libur dan bersedia menjemput saya di bandara. Hati tenang, dan saya sangat bersemangat ketika mendengar isu dari teman2 saya (Diana dan Ian) bahwa Susi Air pesawatnya jet dan pilot2nya bule2 muda yang ganteng. Akhirnya jam 10 kurang penumpang SA yang berjumlah 5 orang (kalau maskapai lain pasti sudah dicancel karena penumpangnya sedikit), diarahkan menuju pesawat kecil berbaling2 depan 1 buah dan diperagakan di luar pesawat bagaimana memasang jaket pelampung jika ada kondisi darurat. Omak! Dan itu bukan pesawat jet melainkan Cessna! (Jadi agak2 parno karena mengingat dulu sering banget dengar berita pesawat Cessna jatuh).
Pesawat Susi Air
Saya jadi menyesal tidak beli asuransi jiwa di bandara tadi. Tapi memang, gosip tentang pilot2 bule muda yang ganteng itu ternyata benar. Pilot dan co-pilotnya ganteng bow! Saya hanya bisa tersenyum manis (jadi nyesel belum mandi dan gosok gigi karena langsung lari dari pelabuhan ke bandara) sambil menatap si pilot yang entah kenapa lebih ganteng dari co-pilotnya, menginstruksikan awal penerbangan dengan bahasa Indonesia yang lancar namun dengan logat bule. Saya sempat berpikir,seandainya pesawat ini jatuh (karena habis take-off memang agak-agak goyang selama beberapa belas menit), saya setidaknya meninggal bersama 2 cowok ganteng hehehe...
Saya mengalihkan perhatian ke snack yang disediakan SA, cake lebaran dengan topping coklat putih dan roti sosis plus korma dan air, lumayan juga. 40 menit selepas penerbangan dari atas sudah terlihat pemandangan menakjubkan dari kepulauan Lembata. Pesawat mulai mendarat dengan mulus (tanpa ada goncangan seperti kalau mendarat dengan maskapai Li*n atau B*t*via) padahal ini pesawat super kecil.
Pemandangan perairan Lembata dari atas pesawat
Dan dalam waktu 15 menit, saya sudah mendapat bagasi saya. Saya belum kenal Robert yang akan menjemput saya, karena saya hanya tahu no-nya dari Diana. Jadi saya memang tidak mengharapkan akan dijemput dengan sebuah mobil ber-AC dengan pelat Jakarta dan diantar kesana kemari sebelum akhirnya diantar ke terminal Barat dimana truk yang menuju Lamalera sudah hampir penuh dan akan berangkat ke Lamalera tepat jam 1. Kak Robert, begitu saya diminta memanggil dia karena ternyata orangnya masih muda dan belum om2; mengantar saya membeli nasi bungkus (nasi ikan 8rb) dan aqua besar (6rb) sebelum naik ke truk dan tergoncang2 bersama drum oli, karung2 beras, dos2 mie instan dan barang2 lain yang dibawa penumpang. Untung ayam dan saudara2 seperguruannya ditaruh di atas truk. Ransel super besar saya akhirnya ditaruh di atas, agak jauh dari ayam. Setelah beberapa kilo perjalanan, ban truk pecah di salah satu desa, sebagian penumpang turun sementara ban truk ditambal.
Truk penumpang dari Lewoleba ke Lamalera, hanya ada 3 truk/hari

Dan perjalanan dimulai, sepanjang perjalanan saya berulang kali harus menutup muka dan hidung dengan jaket karena debu (sialnya lupa ngeluarin scarf dan sunglasses dari ransel) karena jalanan yang rusak menuju Lamalera ajubile. Perjalanan makan waktu 4 jam lebih karena masih antar penumpang sana sini. Di samping saya, ada seorang Bapak yang semangat bercerita tentang Lamalera, namanya Bapak Yohanes Blido Keraf (kayanya masih ada saudara dgn Sony Keraf - mantan Menteri Kehutanan), beliau mengatakan truk berangkat jam 3 atau 4 subuh setiap pagi dari Lamalera ke Lewoleba sedangkan hari Minggu tidak ada truk yg jalan ke Lewoleba. Truk ke Lewoleba ada juga yang jam 4 sore berangkat hari Sabtu, dan menginap di Lewoleba sampai Minggu siang baru balik ke Lamalera. Pemandangan hutan kering berdebu di sisi2 jalan mulai berubah menjadi pemandangan pegunungan dengan laut di kejauhan ketika mulai memasuki desa Lamalera.














Selamat datang di Lamalera

Pak Blido bersama anak dan istrinya pun turun di dekat lapangan bola di dusun Wutunglolo. Jam 5 sore lewat sedikit saya diturunkan supir truk di bawah Guru Ben Homestay (telp 0813 8326 6681 dengan mama Yudis), tidak lupa saya meminta nomor kontaknya (om Ager - supir truk Prestasi : 0852 3783 9685). Ternyata tempatnya ada di bukit dimana saya harus mendaki batu2 besar yang dijadikan tangga tentunya dengan ransel super besar saya. Omak! Sampai di atas, nafas saya hampir habis. Dan ternyata homestaynya kosong dan saya bisa menginap,saya tanya harganya 80rb/malam, dalam hati saya berkata: mahal bener! Tapi ternyata itu termasuk makan 3x sehari.Saya lihat kamarnya cukup bersih, dan karena sudah sore, saya memutuskan menginap di sana. Sehabis menaruh barang dan omong-omong sedikit dengan penjaganya, mama Yudis yang ternyata istri almarhum Bapa Guru Ben, saya mengambil kamera dan mengejar sunset yang kata penduduk sekitar ada di ujung jalan.
Saya sempat melihat sesi-sesi terakhir dari penyembelihan paus (dengan lensa kamera saya yang sudah di-zoom sampai mentok)














Proses penyembelihan paus yang ditangkap kemarin, sebagian besar penduduk desa biasanya hadir dan semua orang dapat bagian walau ia tidak ikut memburu paus


Pemandangan desa Lamalera di waktu senja dari atas Homestay Guru Ben

Ternyata sudah hampir sunset ketika saya sampai di gereja Katolik dimana Pater Bode,SVD mengabdikan 31 tahun hidupnya di sini dan ke seluruh Lembata. Sehingga saya memutuskan kembali setelah foto2 dan melihat monumennya di depan gereja. Di monumen tsb terukir kata-kata ini : Nagarisip sama funo feli gere. Suba goburo majo pagoro. Artinya saya tidak tahu, mungkin besok akan saya tanyakan ke masyarakat.
Patung Pater Bernardus Bode, SVD di depan Gereja Katolik Lamalera

Akhirnya dapat beberapa foto langit senja di Lamalera, walau tidak bisa melihat matahari menghilang sempurna di balik bukit. Karena sudah gelap, saya memutuskan kembali ke homestay dan makan malam. Karena sudah lelah, saya mandi dan tidur. Malamnya saya bermimpi berlayar dengan kapal kecil dan bertemu ikan paus yang mirip di gambar2 kartun yang saya kenal...hehehe

senja keunguan dari atas Homestay Guru Ben


Hari 3 : Lamalera (menunggu teriakan Baleo - harap2 cemas)

Hari pertama saya bangun jam 5.20 karena ingin mengejar sunrise, ternyata matahari belum muncul sampai jam 5.30 lewat. Ketika cercah mentari pagi yang agung mulai bersinar, saya dapat menikmati keindahannya dengan sempurna karena Homestay ini menghadap ke arah timur.
Sunrise di Lamalera

Setelah puas foto2, sepiring ubi goreng tepung dan teh hangat sudah terhidang di meja menanti untuk dinikmati. Ternyata 3 potong ubi dan secangkir teh sudah cukup membuat saya kenyang. Saya sempat berpesan ke mama Yudis bahwa saya ingin makan daging paus untuk makan siang, dan mama Yudis mengiyakan. Saya sebenarnya mau langsung jalan2, tapi karena badan masih pegal2 karena kurang tidur di tempat yang layak semalam, maka saya melanjutkan tidur sementara mama Yudis dan yang lainnya beraktivitas di luar rumah. Ketika saya bangun jam 9 lewat, saya mendapati mama Stika yang merupakan adik perempuan mama Yudis sedang menenun selendang dengan motif paus. Tertarik, saya menanyakan harganya, yang ternyata Rp 200rb saja...saya langsung mengurungkan niat karena uang di kantong pas2an...
Sehabis foto2 dan bertanya pada mama Stika tentang ikan2 yang dijemur, saya melanjutkan perjalanan ke pantai berharap bisa cari info tentang nelayan yang Baleo alias berburu paus hari ini...sepanjang jalan banyak massa terutama kaum bapak yang membuat hiasan pagar jalan dari daun lontar muda untuk persiapan acara peringatan 125 thn keKristenan masuk ke Lembata melalui Lamalera yang dibawa oleh Pater Bode. Saya disapa kiri kanan dan tidak jarang dipanggil mister oleh anak2 karena mungkin itu adalah panggilan mereka terhadap turis yang saya duga umumnya bule laki2. Padahal saya bukan bule dan bukan laki2, hal lain seperti tatapan ingin tahu massa membuat saya yakin tempat ini sangat tidak biasa dikunjungi oleh turis perempuan Indonesia yang bepergian sendirian. Saya akhirnya 'bertamu' ke pondok perahu Teti Heri dimana ada 3 orang Bapak sedang duduk2.Ternyata mereka sedang memperbaiki pukat dan beristirahat karena tangkapan paus 2 hari yang lalu dimana baru selesai disembelih kemarin, sedih deh ngga bisa liat proses penyembelihannya secara langsung :(
Dari mereka saya banyak mendengar bahwa tahun ini jumlah paus yang mereka dapat hanya sedikit, cuma 6 ekor, dibandingkan tahun lalu dimana mereka berhasil memburu 20an paus dari berbagai spesies. Tapi tahun lalu mereka tidak mendapatkan orca atau paus pembunuh, tahun ini mereka mendapat 3 ekor orca. Ternyata Lewa hanya berlangsung sampai Agustus sementara perburuan paus berlangsung sepanjang tahun, tidak bergantung musimnya melaut (Lewa) yang berlangsung dari Mei-September ini. Dan tulang2 paus, lumba2 dan orca mereka jual seharga Rp 5rb/kg. Dulunya seharga Rp 2-3rb/kg. Pedagang2 dari Lewoleba biasanya datang untuk menimbangnya, lalu kemudian mereka jual ke Makassar u/ dijadikan tepung makanan ternak/unggas. Namun mulai tahun ini ada Perda dari Pemerintah kab. Lembata yang melarang penjualan segala jenis tulang paus, lumba2 dan orca. Sehingga para nelayan ini bingung akan diapakan tulang2 ini, sebagian menurut mereka akhirnya dibakar bersama batu karena tulang2 ini mengandung lemak tinggi sehingga mudah terbakar. Setelah menunggu beberapa lama dan melihat salah satu bapak, bapak Mikael Gorang Keraf namanya sedang asyik melinting rokok dari tembakau yang dibungkus daun lontar dan diikat simpul.
tembakau yg sudah dirajang ditaruh di toples plastik dan dilinting dengan daun lontar

Saya mengobrol banyak dan akhirnya mulai menyingkapkan perlahan ritual Lewa yang unik dari masyarakat Lamalera. Bapak Fransiskus Kedang bercerita bahwa banyak aturan tentang perburuan Baleo atau paus; bagaimana Kafe (tombak/harpun) baru dipasang di Leka (tongkat atau galah bambu) ketika sudah mendekati si paus, dan bagaimana kapal penikam paus tidak boleh menggunakan mesin motor. Jadi dari daratan ketika mulai terdengar teriakan Baleo dari seseorang di pantai, maka dengan serentak beberapa perahu akan mulai turun untuk mengejar baleo. Untuk mempercepat pengejaran, kapal penikam akan ditarik oleh perahu dengan mesin yang mereka biasa sebut dengan Johnson (mungkin nama merk mesinnya ya?) lalu beberapa ratus meter mesin harus dimatikan karena pendengaran paus tajam juga sehingga suara mesin kapal pasti akan membuatnya berenang menjauh. Jadi mereka harus mendayung untuk mendekati si paus sampai jarak yang cukup untuk menikamnya. Juru tikam sendiri tidak ada persyaratan khusus asal berani/punya nyali saja. Dia pun nantinya akan mendapat jatah salah satu sirip paus yang berhasil dibunuh. Untuk menjadi juru tikam, latihannya dimulai dengan memperhatikan juru tikam lain beraksi, dari memperhatikan barulah mulai mencoba sendiri. Kafe atau tombak/harpun itu mereka tempa sendiri dari besi, dan mereka mempunyai beberapa orang saja yang bisa menempa Kafe ini.
Perburuan paus ini memiliki banyak resiko, diantaranya perahu utama biasanya akan terbalik ketika paus berontak melawan,jadi jika bawa kamera silahkan ada di kapal lain dimana si juru tikam tidak beraksi. Kalau tidak, siap2 kamera hancur kena air laut. Pak Frans mengatakan saya sebaiknya ikut perahu Johnson (dengan mesin motor) kalau ikut Baleo nanti. Jadi kamera saya bakal aman. Beberapa tahun yang lalu, ada juga perahu nelayan yang ditarik paus ke laut lepas sehingga nyaris ke perbatasan Australia. Saat itu kebetulan hujan dan agak berkabut sehingga rasi bintang salib besar yang menandakan penunjuk jalan mereka tidak terlihat, menurut para nelayan Lamalera, jika mereka menuju Lamalera pasti di belakang mereka ada rasi bintang salib besar, itu saja patokannya.
Saya tergerak menanyakan arti kata2 yang terukir di monumen Pater Bode di depan gereja yang saya lihat kemarin sore: Nagarisip sama funo feli gere. Suba goburo majo pagoro
Ternyata menurut pak Frans artinya : Nagarisip sama funo feli gere (Mengkilat seperti bintang 7 di atas langit). Suba goburo majo pagoro (Seperti berlindung di bawah payung).
Mungkin kata-kata dalam bahasa lama orang Lamalera ini untuk menggambarkan kehidupan Pater Bode yang sangat berkesan bagi rakyat Lembata dan pengabdian beliau yang membawa kedamaian dan perlindungan bagi umatnya.
Dan sementara menunggu teriakan Baleo, saya lanjut berbicara dengan mereka. Ketika kami masih bercakap2, ada seorang bule duduk di pantai sambil membaca buku beberapa meter dari kami. Anak2 lelaki yang bermain disana langsung mengajaknya main sambil memanggil mister2. Si bule menurut ketika diajak main air di pantai, dan bukunya dititipkan kepada kami oleh seorang anak agar jangan basah kena air. Ternyata bukunya Moby Dick tapi dulum bahasa Italia. Saya agak terkejut karena ilustrasi paus di sampul buku itu sama dengan yang ada di mimpi saya semalam. Hehehe...ada2 aja...
Setelah cape bermain air dengan anak2 si bule mencari bukunya, ketika dia duduk di dekat kami saya langsung mengajaknya ngobrol. Namanya Alberto,seorang engineer di rumah sakit dari Italia. Dia juga baru datang kemarin ketika mereka sedang memotong2 daging paus. Dari Alberto, saya tahu bahwa ada nelayan yang menjual cincin dan liontin dari tulang dan gigi paus serta lumba2. Dia juga membantu memfoto saya ketika saya berpose ala juru tikam di sebuah perahu yang terparkir di rumah perahu. Kami berjanji bertemu di pantai sekitar jam 4 untuk pergi ke rumah nelayan yang menjual asesoris tulang dan gigi itu.
Ini dia pose saya bergaya ala juru tikam... siap?? loncat!!



Sekembali saya ke penginapan, ternyata mama Stika sudah menghidangkan makan siang berupa daging ikan paus yang setengah kering (sehingga masih empuk), daun kelor/merungga rebus dan beras merah. Ternyata daging paus enak, agak berlemak sih sehingga saya tidak bisa makan banyak2. Tapi menurut saya,ini pengalaman seumur hidup makan daging paus.
daging paus setengah kering yg dibumbui warnanya agak kehitaman

Setelah makan siang, saya kembali tidur sambil mendengar2 jika ada teriakan Baleo menggema di desa. Jam 4 kurang saya terbangun dan bersiap2 ke pantai, saya melihat Alberto sedang bermain bola dengan anak2 remaja yang walaupun tidak memakai kostum tim, tetap bisa membedakan teman tim dan lawannya. Ketika Alberto melihat saya dia berhenti bermain dan istirahat sejenak, lalu kami berjalan menuju rumah bapak Stephanos Bataona yang ada di pojok pantai sebelah barat. Kami berkenalan dan saya mulai menanyakan tentang tulang2 paus dan ikan2 lain yang banyak berhamburan di halaman depan rumah bapak Stephanos dan istrinya yang sedang asyik menenun kain (lagi2 hrgnya ga terjangkau kantong cekak saya – Rp 800rb bow!). Teh dan kopi tersuguh, Alberto dan pak Stephanos bertukar linting rokok tembakau. Alberto dengan tembakau dari U.K.; Pak Stephanos dengan tembakau yang biasa dihisap nelayan lain. Pak Step mengenakan sebuah cincin yang terbuat dari gigi orca yang tidak mau dijualnya, karena menurutnya cincin tsb berharga karena dipercaya bisa menolak bala bahaya.
tulang2 paus, lumba2 dan ikan lain yang berserakan

Saya baru tahu bahwa tulang2 sisa ini dulunya dijual ke pedagang di Lewoleba seharga Rp 2-5 rb/kg yang kemudian akan dioper ke Makassar untuk dijadikan tepung makanan unggas. Tapi sekarang perdagangan (mulai tahun ini) dilarang oleh Pemda Lembata sehingga para nelayan bingung akan diapakan tulang2 paus dan lumba2 ini. Sementara kami berbicara, ada seorang Bapak datang dan berbicara dulum bahasa lokal ke bpk Stephanos, dia menyerahkan segepok uang seratus ribuan. Ketika bapak itu pergi, saya menanyakan bisnis apa si bapak itu. Ternyata itu uang hasil penjualan sirip dan ekor ikan hiu (per pasang 250rb). Saya juga mengetahui bahwa insang ikan pari juga dijual Rp 300rb (untuk restoran Cina). Harga2 tersebut tergolong murah menurut saya karena setahu saya harga2 menu yang menggunakan bahan2 tsb cukup fantastis di Jakarta dan kota2 besar lainnya. Bisa mencapai jutaan, ketika saya menceritakan hal ini, tampak pak Stephanos sangat terkejut. Semoga info ini bisa membantu meningkatkan harga jual dari organ2 ikan tsb. Beliau hanya punya stock gigi2 lumba2 yang belum diapa2kan, dijual harga Rp 5rb/ buah. Saya akhirnya tidak membeli karena tidak tahu mau diapakan gigi2 itu. Pak Stephanos berjanji esok akan membawa saya ke rumah lain dimana ada tetangga yang biasa menjual asesoris dari gigi paus.
Sementara pak Step mengatakan tulang kepala dibiarkan saja berserakan di sepanjang pantai dan rumah mereka, karena tidak boleh keluar dari Lamalera. Senja semakin turun dan kami memutuskan pamit. Saya berpisah dengan Alberto karena saya ingin memfoto sisa-sisa pembantaian paus di pantai kemarin. Setelah selesai, saya 'dicegat' seorang nenek untuk mampir ke rumahnya dan melihat2 tenunan yang dijualnya. Mau tidak mau saya mampir ke rumah Mama Dora Teodoragelu dan menanyakan harganya. Selendang dihargai Rp 100-200 ribu/ buah, sarung mulai dari Rp 400rb (terbuat dari benang toko) sampai Rp 800rb (terbuat dari benang kapas asli dan pewarna alami). Sayang harganya mahal banget buat kantong ransel saya....Tapi mungkin murah untuk bule2. Saya sebenarnya ingin sekali membeli, karena motif tenunan Lamalera memang khas, bergambar perahu yang ditumpangi nelayan dan motif paus atau ikan pari. Lokasi rumah mama Dora ini persis di seberang homestay Abel. Bisa dicek juga tenunan di rumah-rumah lain karena semua perempuan disini sepertinya bisa menenun.
Setelah berpamitan dengan mama Dora, saya menuju ke Abel Homestay (telp : 0813 3909 3842 atau 0852 5300 5976) untuk menananyakan kebenaran rumor yang mengatakan harga di homestay ini berubah2 setiap hari. Saya memperkenalkan diri kepada pak Abel yang merupakan mantan kepala desa, sebagai anggota komunitas IBP (Indonesian Back Packer Community) :) dan beliau menunjukkan daftar harga kamar dan makanan serta sewa perahu untuk Baleo (mengejar paus). Berikut daftar harganya :
Kamar dengan kamar mandi umum sharing di luar : Rp 65.000,-/orang
Kamar dengan kamar mandi dalam : Rp 75.000,- /orang
Kamar ekslusif : Rp 85.000,- /orang
Semua harga sudah termasuk makan 3x sehari.
Untuk naik perahu bersama nelayan : Rp 100.000,- (nebeng saat nelayan melaut) s/d Rp 500.000,- (kalo mau syuting Baleo pake video camera). Rp 200.000,- (kalau mau foto2 pas Baleo). Beliau mengatakan mengadakan homestay ini juga untuk pekerjaan sosial, tapi memang beliau agak strict dengan tamu2 yang suka seenaknya. Tak jarang ia mengusir tamu yang berbuat keterlaluan (menurut dia).
Sehabis membeli minuman dingin (listrik menyala jam 6 sore – jam 6 pagi di Lamalera), saya pamit pulang dan mandi serta makan malam. Sisa malam itu saya membaca buku untuk mengisi waktu dan tidur. Agak malas bergabung dengan mama Yudis dan adik Oni untuk menonton sinetron Indonesia yang mengharu biru ngga jelas...hehehe

Hari ke 4 : Lamalera (Pasar Barter Wulandoni)
Esok paginya, saya bangun pagi jam 7 kurang dan bergegas untuk menunggu truk di pinggir jalan menuju pasar barter Wulandoni. Pasar ini memang unik karena transaksi bisa berdasarkan barter barang atau pembelian biasa. Saya dan mama2 dari Lamalera yang membawa keranjang dan ember berisi potongan2 ikan hiu, paus dan ikan kering lainnya sampai jam 8 kurang, dimana butuh 30 menit untuk mencapai pasar ini dari Lamalera (ongkos Rp 5rb/orang). Sampai disana, mama2 dari Lamalera (karena tidak ada lelaki yang ikut jualan di pasar ini) mulai mengatur dagangannya yang berupa daging dan lemak paus, ikan hiu kering atau ikan kering lainnya. Penduduk dari daerah pegunungan (desa Labala dan Wulandoni) mulai berdatangan dengan truk dan ojek, mereka membawa ubi, jagung, sayur-sayuran yang akan ditukar. Saya agak terkejut karena ada yang menjual kue khas Alor yaitu kue rambut (Rp 1000/potong), ketika saya menanyakan apa mama penjualnya orang Alor ternyata tidak, karena mereka disini juga mengenal kue tsb. Saya akhirnya membeli buah delima (3 buah Rp 5rb) dan jambu klutuk (3 buah Rp 5rb) juga. Ketika saya asik berjalan2, saya dicolek oleh seorang hansip dan menegur saya untuk mengikuti dia ke kantor desa. Sesampai di kantor desa, saya dihadapkan dengan seorang bapak yang duduk di belakang meja dan memperkenalkan diri dengan nama Elias. Si Bapak langsung membuka buku peraturan desa dan memperlihatkan bahwa ada ketentuan mengenai retribusi pasar Wulandoni. Katanya pengunjung pasar yang syuting (foto dan video) kena Rp 50rb (WNI) dan Rp 75rb (turis asing), pengunjung biasa bukan dari kalangan peneliti Rp 30rb, sementara pelajar, mahasiswa, dan peneliti dikenakan Rp 10rb (WNI) dan Rp 50rb (WNA). Turis asing dikenai Rp 60rb/orang sementara LSM Asing (ini apa sih maksudnya?) dikenai Rp 50rb/orang. Saya menganggap peraturan ini terlalu dibuat-buat karena saya sudah mengelilingi pasar-pasar di NTT dari Timor, Flores, Rote dan Alor, tidak pernah ada pasar yang pengunjungnya disuruh bayar retribusi. Saya mengemukakan hal ini kepada bapak Elias dan beliau tampaknya kaget karena saya sudah lama di NTT. Akhirnya beliau mengalah dan mengijinkan saya tidak usah membayar (saya ngotot karena toh saya membeli dari mama2 penjual) jadi saya bisa dibilang konsumen, bukan asal penonton. Saya mengatakan kepada beliau, bule2 turis pasti mau saja disuruh membayar retribusi selama itu jelas untuk apa dan ada tanda terimanya. Jika tidak ada fasilitas seperti penerjemah, kamar mandi /toilet yang layak, pasti mereka merasa uang mereka terbuang percuma untuk objek wisata yang kurang berkesan. Si Bapak hanya mengangguk2 saja...
Saya pamit dan melanjutkan foto2 saya. Saya memperhatikan si hansip arogan yang tadi menggiring saya ke kantor desa sedang 'memungut pajak' dari setiap pedagang disana. Tidak ada yang terlewat, dan setiap mama memberikan sedikit barang dagangan mereka entah berupa beberapa batang sirih, beberapa buah pisang sampai seiris lemak paus untuk jadi retribusi. Benar2 ini orang....Dia berseru "Nah ya syuting" ketika saya memfoto beberapa adegan barter yang terjadi di dekat saya. Saya memutuskan cuek dan masa bodoh...
Saya bertanya kepada beberapa pengunjung yang tidak barter, melainkan membeli barang, ternyata harga daging ikan pari selembar Rp 10rb. 1 potong ikan hiu kering dihargai 12 buah jagung. 1 potong ikan juga dihargai 1 sisir pisang.
Proses barter baru berlangsung sekitar jam 10.30, dimana si hansip arogan meniup peluit dan para mama langsung sibuk barter sana-sini. Padahal tadi mereka seakan2 duduk menunggu-nunggu pembeli. Sekarang semua orang heboh saling bertukar. Ada yang menyodorkan potongan2 ikan ke penjual biji kopi, ada yang menukar pisang dengan potongan ikan hiu, dll. Saya memperhatikan ikan basah (jenis apapun) nilai tukarnya lebih mahal daripada ikan kering.

















barter garam dengan pisang
barter pisang dengan potongan ikan hiu kering




Jam 11.30 lewat karena tampaknya sebagian besar orang sudah mendapatkan bagian yang ingin dibarter, sebagian penjual mulai pulang. Saya yang sudah kelelahan dan kepanasan memutuskan ikut pulang ke Lamalera dengan truk yang tadi membawa saya. Saya juga was was jangan sampai terlewat Baleo paus. Sepanjang perjalanan pulang yang berdebu (karena jalanan sedang direhab) sehingga banyak tumpukan material dan pasir di sisi jalan, saya tidak bisa memfoto2 banyak karena debunya membuat nafas sesak. Sampai di Lamalera, saya lihat para turis bule sudah pulang dan sedang nangkring di salah satu kios menikmati minuman kaleng. Saya memutuskan pulang ke homestay dan istirahat. Mama Stika sudah menyiapkan masakan ikan hiu balik tomat yang sangat sedap sehingga membuat saya menambah porsi makan. Dulu, waktu kecil mama saya pernah memasak ikan hiu yang dibeli dari pasar Inpres Senen di Jakarta, tapi saya kurang suka rasanya, tapi hiu di Lamalera sangat lezat. Karena lelah, saya memutuskan tidur siang sebentar. Jam 3 saya sudah bangun dan bersiap-siap untuk snorkeling di pantai. Sesampai di pantai, saya memakai fins dan booties serta mask dan snorkel saya lalu berenang melawan ombak sejenak dan akhirnya sampai di bagian agak tengah, Disana saya baru bisa menemukan keindahan terumbu karang sedikit karena di pesisir kebanyakan berupa pasir hitam dan ada beberapa potong pakaian bekas yang tersangkut di batu karang. Pokoknya masih kurang indah sih dibandingkan pantai2 di Alor. Karena ombaknya cukup kuat, dan arus kadang2 cukup terasa, saya hanya snorkel kurang lebih 1 jam sebelum memutuskan naik dan membereskan peralatan snorkel saya. Seorang anak kecil yang memperhatikan saya dari tadi meminta mask saya, saya hanya tersenyum dan mengatakan tidak bisa - harganya rada mahal dik, kalau kakak mampu pasti ta belikan :-)
Saya dengan berbasah2 ria memanjat kembali menuju homestay dan membilas badan sejenak lalu berpakaian dan menuju rumah pak Stephanos untuk menagih janjinya mengantar saya ke tempat tetangga yang menjual cincin tulang paus. Ternyata pak Stephanos dkk sedang memperbaiki pukat. Sehingga saya harus menunggu mereka selesai. Saya memutuskan foto2 di ujung garis pantai untuk mengisi waktu.














Menjelang senja, pak Stephanos akhirnya mengajak saya ke rumah kerabatnya yang menjual gigi orca (Rp 200rb/buah) dan mengatakan bisa dibuat sesuai ukuran jari saya. Namun karena kantong cekak, jadi saya masih mengurungkan niat. Si bapak pembuat cincin kebetulan tidak ada di Lamalera, sehingga si istri berjanji besok di gereja bertemu dengan saya.
Pak Stephanos lalu menunjukkan rumah bapak Bernardus Tapaona (rumahnya di ujung sebelah kanan di kaki tanjakan curam menuju desa Lamalera A) yang biasa membuat anting dan cincin dari tulang paus juga. Saya mampir ketika hari sudah gelap dan keluarga tsb sedang makan malam di halaman teras belakang. Saya disodori sepasang cincin dari tulang paus (untuk laki2 dan perempuan) seharga Rp 150rb. Kalau per buah kena Rp 75rb/cincin cewek, dan Rp 100rb/cincin cowok. Sementara liontin dari gigi lumba2 diobral harga Rp 35rb/buah. Duh, perasaan si Alberto kemarin bilang Rp 35.000 atau Rp 50.000/cincin deh...kok sama saya dikasih mahal ya? Padahal saya turis Indonesia bertampang kere dengan celana pendek dan kaos oblong plus sendal jepit...Saya sebenarnya keberatan dengan harga tsb, tapi karena 5 orang anak yang masih kecil menatap saya dengan mata berharap saya akhirnya jatuh kasihan juga (ini nih resiko kalau orang cepat kasihan) dan membeli sepasang cincin tsb. Padahal saya belum punya pacar untuk diberikan cincin tsb... Mereka pun berkelakar semoga saya cepat menemukan kekasih untuk diberikan cincin tsb. Amin! hehehe...

Kembali ke homestay, saya disuguhi makan malam berupa nasi merah, tumis labu siam, indomie rebus (lagi!) dan telur dadar (lagi2). Selesai makan, saya menikmati malam dengan mengajak ngobrol mama Yudis yang tinggal dengan 2 orang anaknya. Mama Yudis sebenarnya punya 3 anak, namun anak laki-laki yang sulung sudah meninggal 4 tahun lalu ketika berburu lumba-lumba di perairan Larantuka sehabis membeli solar untuk dibawa ke Lewoleba dengan drum. Tali yang terikat di harpun yang digunakan untuk menombak si lumba-lumba membelit kakinya dan menarik anak malang tersebut ke dasar laut bersama lumba-lumba yang diharpunnya. Ketika si anak berhasil ditarik dari air dan dibawa ke RSUD, ternyata sudah terlambat karena sudah terlalu banyak meminum air laut. Raut sedih segera terpancar dari raut muka mama Yudis....ah, saya jadi ngga tega...ini pertama kalinya saya mendengar ada orang terbunuh karena lumba-lumba...padahal biasanya lumba-lumba kan menolong jiwa manusia. Karena besok hari gereja, saya memutuskan untuk cepat tidur karena takut telat...



Hari terakhir di Lamalera, Minggu (4 September 2011)
Pagi-pagi saya sudah bangun dan mandi untuk mengikuti misa di gereja Katolik Lamalera, disini banyak bapak-bapak yang datang dengan memakai sarung (hehehe, kaya mau ke mesjid saja). Misa berlangsung cukup cepat, sekitar jam 9 pagi sudah selesai. Saya sempat memfoto interior dalam gereja ini.

Ketika umat mulai beranjak keluar untuk pulang dan bekerja bakti siangnya untuk mempersiapkan perayaan tanggal 8 September nanti, saya sempat memfoto beberapa hal menarik yang ada selama perjalanan pulang saya...













ada yang jualan tuak (di jeregen) di sepanjang jalan pulang dari gereja - sehabis dijamu makanan rohani, tersuguh minuman duniawi....hehehe
















Sepasang kakek - nenek yang masih mesra bergandengan tangan.... sambil menggandeng cucunya - duh jadi iri!

















Dua meriam kuno yang ada di dekat sebuah rumah menuju gereja





Sesampai di rumah, saya mengepak barang2 saya dan memutuskan mampir di rumah bapak Stanis Parson yang menjual lukisan dan pahatan tulang paus yang ia buat sendiri sambil menunggu makan siang disiapkan. Rumah beliau terletak di tepi jalan cuma berbeda 2 rumah dari deretan homestay Abel. Saya tertarik pada pahatan raut wajah Yesus yang dijual disana (Rp 50rb) dan sebuah patung kecil berbentuk burung pipit (Rp 30rb). Namun, karena terbatasnya ruang di ransel saya, akhirnya saya mengambil pahatan wajah Yesus yang cuma ada satu-satunya. Bapak Stanis yang ramah ternyata mantan nelayan yang ikut Baleo juga semasa muda. Dia memulai usaha pahat2 tulang paus ini 40 tahun yang lalu. Beliau lalu menceritakan legenda paus yang lain...

Sebenarnya istilah Baleo yang diteriakkan begitu melihat paus bukan berarti baleo = paus dalam bahasa lokal. Paus dalam bahasa Lamalera disebut titiklemah. Sementara orca disebut Seguni. Baleo artinya Ba (pikul) dan Leo (tali besar yang digunakan untuk menarik paus ke darat --> dulu biasa disimpan di rumah,sekarang cuma disimpan di perahu) dan ikut lari ke laut untuk mengejar si paus. Musim Lewa sendiri ditandai dengan upacara adat di dusun Lamanu (yang ada di atas gunung) pada tanggal 1 Mei tiap tahun. Semalam sebelumnya, sudah diadakan misa arwah untuk saudara-saudara mereka yang meninggal di laut. Upacara adat di dusun Lamanu itu diadakan di dekat batu besar yang menyerupai paus (sayang saya baru tahu sekarang, kalau tidak kemarin saya naik deh melihat batu itu). Dan kata-kata ini diucapkan oleh tetua adat "sora tare bala tala leforae tai" yang artinya kerbau tanduk gading mari pergi ke darat dan beri makan orang-orang di kampung. Tujuannya untuk memanggil paus-paus supaya mendekat ke Lamalera dan bisa diburu untuk memberi makan janda-janda dan anak2 yatim. Jadi menurut pak Stanis, paus dulunya bisa jadi merupakan turunan kerbau yang akhirnya melaut. Tersirat ada kebijaksanaan lokal dalam hal ini, jadi mereka berburu paus untuk kepentingan masyarakat yang membutuhkan. Hal yang berbeda dengan perburuan paus di Jepang dan negara2 maju lainnya yang dalam skala besar dan kepentingan industri besar.
Setelah bercakap-cakap, saya pamitan dengan pak Stanis dan menuju homestay untuk makan siang. Sambil saya makan siang (dengan daging goreng iris), mama-mama dari rumah2 sekitar mulai datang membawa nasi merah yang sudah dimasak dan aneka makanan untuk dikumpulkan bersama guna dibawa ke gereja menjadi makanan orang2 yang bekerja mempersiapkan tenda dan segala sesuatunya untuk perayaan tanggal 8. Semuanya dengan sukarela dan tidak ada yang baku tunjuk dan iri-iri, sebuah tatanan sosial yang harmonis dan terjalin dengan semangat yang sama : melayani sesama.
Selesai makan, saya duduk2 ketika ada 4 anak kecil masuk dan mulai memanggil2 saya dengan sebutan (lagi!) : Mister. Gubraks saya perempuan lho adik2...saya akhirnya menjawab dalam bahasa Indonesia dan menawari mereka dengan daging iris goreng yang masih sisa banyak sekali. Mereka yang tadinya malu-malu setelah merasakan enaknya daging itu, langsung mendekat dan bolak balik (tanpa disuruh lagi) mengambil daging tersebut. Saya bertanya nama mereka dan mereka menjawab lalu bergantian berjabat tangan.
di belakang ki-ka : Otha - Johny
di depan ki-ka: Ika dan Feby

Beberapa hasil jepretan anak2 dengan kamera saya (ternyata mereka berbakat lho...)


































Jam 3 lewat, teman saya om Yohanes Boro datang dengan motornya dan menjemput saya di penginapan. Saya membayar penginapan kepada mama Stika dan berterima kasih atas oleh2 ikan pari kering yang sudah dibakarnya, serta sebotol plastik minyak paus). Mereka menyuruh saya mengisi buku tamu (dan kali ini saya benar2 yakin tidak ada bahkan jarang turis Indonesia yang menginap disini) yang isinya berlembar2 nama2 bule dari negara2 Eropa dan Amerika kebanyakan. Saya menjabat tangan mama Stika dan mama Yudis, lalu jalan sambil memanggul tas saya. Awalnya kami agak ragu apa tas ini bisa dibawa atau tidak karena ukurannya besar dan om Yohanes naik motor Megapro, namun setelah ditaruh melintang diantara stang, ternyata bisa juga. Kami mampir di bapak Stanis dan mengambil pahatan wajah Yesus lalu saya dicegat Bapak Mikael yang menyerahkan seikat tulang2 paus dan lumba2 (gratis!) sebagai tanda mata darinya. Saya sempat mampir di Bapak Frans Kedang yang juga janji kepada saya memberikan tulang paus gratis, namun beliau tidak ada di rumah sehingga saya dan om Yohanes segera melanjutkan perjalan menuju Lewoleba.
Perjalanannya melalui jalanan rusak dan berdebu dan memakan waktu 2,5 jam. Kami tiba di Lewoleba jam 6.30 dan menuju Hotel Lewoleba telp 0383-41012 yang disarankan kak Robert. Saya memilih kamar yang paling murah (Rp 38.500,-/malam) - tidak ada kipas angin dan colokan listrik, hanya ada 2 tempat tidur yg bersih dan tidak bau dan dapat selimut bersih dan baru. Lumayan, kamar termurah yg saya dapatkan selama travel di NTT. Kamar mandinya sharing (terletak di bagian belakang) dan cukup bersih (mungkin karena saya sudah sering melihat kamar mandi dan WC masyarakat yang jauh lebih parah dibanding disini). Om Yohanes sampai geleng2 kepala melihat 'kepelitan' saya padahal sebenarnya saya mampu menginap di kamar VIP sekalipun (harganya Rp 165rb/malam dengan AC, spring bed dan kamar mandi dalam). Saya berkata kepadanya bahwa jalan2 saya memang harus seirit mungkin sehingga turis paling miskin pun bisa merasakan murahnya jalan2 ke NTT, berlawanan dengan anggapan kebanyakan masyarakat Indonesia sekarang; lagipula saya ingin setiap rupiah yang saya hemat saya gunakan untuk membeli oleh2 khas setempat yang mengingatkan saya akan perjalanan ini, dan membantu orang (misalnya dengan memberikan sedikit kelebihan uang atas pelayanan yang baik dari rumah makan, penjual, masyarakat yang memberikan info). Om Yan pamit dan menganjurkan saya berjalan2 di sekitar situ untuk mencari makan. Esok pagi ia akan menjemput saya dan mengajak jalan2 di sekitar Lewoleba. Saya meng-SMS kak Robert dan dia menyarankan saya makan di Warung Bandung yang ternyata letaknya di perempatan ujung lapangan, tinggal jalan lurus ke sebelah kanan hotel. Saya makan nasi dan sayur bayam rebus + cumi dan es teh (Rp 18.000,-). Pulangnya saya foto2 di sekitar pasar tradisional yang ada di dekat perempatan sebelum kembali ke hotel untuk mandi dan beristirahat....
mama2 berjualan dengan diterangi pelita minyak tanah atau lampu emergency


Hari 6 : Lewoleba (Pasar Pada) - Atadei (Dapur Alam) - Pantai Waijarang
Terbangun di kamar ekonomi hotel Lewoleba, saya langsung berpakaian dan cuci muka (ga mandi karena mau ke pasar tradisional Pada). Bayangan saya ini pasar bakal meriah lebih ramai daripada pasar di Wulandoni. Saya disarankan resepsionis hotel untuk jalan ke perempatan Olympic untuk mencari bemo ke pasar Pada. Setelah menunggu 15 menit lebih tanpa ada sebuah bemo melintas, saya akhirnya mencegat ojek dan menuju pasar Pada (ongkos Rp 3rb).

jualan seledri dengan pot2nya sekaligus!



















gurita dan ikan kering dari berbagai jenis...Indonesia memang kaya variasi ikan asin!


Setelah mengitari pasar Pada untuk mencari cumi kering buat oleh2 teman2 di Kalabahi, saya tidak menemukan satu penjual pun yang menjual barang ini. Akhirnya, saya berburu tenun ikat yang dijual pedagang2 disana. Ada satu mama dari Adonara yang menjual aneka selendang dan sarung yang cukup murah (selendang Rp 30rb, sarung Rp 135rb/potong). Dia naik kapal motor dari Adonara Rp 10rb/trip untuk berjualan ke Lewoleba....luar biasa...
Setelah puas berkeliling, saya pulang ke hotel lalu mandi dan bersiap2. Tas ransel saya titip di resepsionis dan membayar hotel. Jam 10an om Yohanes menjemput saya dengan motor dan kami menuju Dapur Alam di kecamatan Atadei. Awalnya jalannya tidak separah yang saya bayangkan namun ternyata kondisi sebagian besar jalan di kab. Lembata sangat amat parah. Banyak tanah lepas dan batu2 yang membuat perjalanan dari Lewoleba - Atadei sangat tidak menyenangkan, rasa-rasanya pinggang saya mau copot begitu setengah perjalanan. Yang ada gangguan hernia, usus, migren dsb sebaiknya memang tidak mengambil rute ini. Tapi pemandangan indah yang terhampar di sebuah bukit yg lumayan dekat dengan lokasi Dapur Alam membuat saya terkesan. Rasa lelah diganti rasa takjub melihat pemandangan alam ini...

Sesampai di Dapur Alam (setelah 2 jam non-stop naik motor), saya terkesima dengan sunyinya tempat ini...nyaris tidak ada seorang penduduk pun kecuali seorang mama yang tinggal bersama suaminya tidak jauh dari lokasi ini. Tanah putih dan gersang yang berlubang-lubang disana sini membuat pemandangan yang cukup unik. Agak kurang terawat sih, tapi sebenarnya kalau dikelola bagus juga...Bau belerang menandakan panas buminya berasal dari belerang. Dulu, orang Departemen SDA yang dibawa orang Dinas Pertambangan Lembata ingin mengeksplorasi panas bumi ini menjadi tenaga listrik (saya sempat melihat ada semacam pipa2 besi ukuran besar yang ada di ujung jalan masuk ke lokasi ini. Tapi kata om Yohanes, kayanya orang Departemen SDA itu kapok dengan jalanan kesini yang butuh perjuangan dan menguras tenaga. Mungkin tidak sebanding dengan jumlah energi yang bisa dieksplorasi kali ya?















Sayangnya si mama tidak ada stok ubi atau pisang yang ada di rumah, harus ambil ke kebun yang agak jauh. Kalau tidak, saya pasti bisa mencicipi bagaimana masakan ala Dapur Alam ini... Kami pun memutuskan pulang karena harus ke pantai Waijarang. Dan dimulailah perjalanan 2 jam yang luar binasa...sangkin capeknya kami berhenti sebentar di rumah kerabat om Yohanes di Kalikassa dekat SD. Kami disuguhi energen hangat dan biskuit karena ternyata adik mama Mertua om Yohanes itu sedang sakit dan tidak memasak...kasihan...
Setelah agak segar, kami lanjut naik motor dan untuk menghibur diri karena pinggang saya sakit sekali saya akhirnya mencoba memfoto2 (ini akibat 'mengabaikan' nasihat kak Robert yang mengatakan perjalanan ke Dapur Alam tidak sebanding dengan keindahannya). Nyesal belakangan...
Setelah mendekati Lewoleba, kami langsung berbelok ke arah Waijarang, ternyata jauh juga kesana...jalanan relatif mulus walau kadang berlobang sedikit dari Lewoleba ke Waijarang. Sampai di Waijarang, saya terpesona oleh keindahannya...ini mirip paduan pantai Mali atau pantai Kokar di Alor dengan pohon di tengah lautnya, pantai Maimol dan pantai pulau Kepa dengan pasir putihnya yang panjang dan pemandangan gunung Ile Boleng di depan (yang mirip dengan pemandangan pulau Pura dari pulau Kepa di Alor). Nyaris tidak ada ombak membuat saya tergoda untuk berenang, tapi saya mengurungkan niat karena sudah sore dan saya tidak membawa baju ganti atau perlengkapan snorkeling yang ada di ransel.
Saya hanya menikmati suasana pantai yang hening sementara om Yohanes di kejauhan menelepon sanak saudaranya yang akan pertemuan sebentar malam.















pantai Wai jarang yang sepi...











Senja di Pantai Wai Jarang dengan pemandangan Gunung Ile Boleng di seberang

Karena acara keluarga om Yohanes akan diadakan jam 6 sore (dan saya harus mengejar ferry ke Alor), jadi kami harus cepat2 pulang ke Lewoleba. Saya berterima kasih kepada om Yohanes karena untuk jasanya menjemput saya dari Lamalera ke Lewoleba dan mengantar saya kesana kemari ia tidak memungut uang sepeser pun. Padahal ojek sekali jalan dari Lamalera ke Lewoleba bisa mencapai Rp 100.000,-/trip. Apalagi ojek ke Atadei PP mungkin bisa sampai Rp 100.000,- juga menurut beliau. Sampai di hotel saya langsung menuju restoran Bandung dan makan secepatnya, lalu saya kembali ke hotel untuk mencuci muka dan mengambil tas, ternyata saya beruntung seorang Ibu asal Alor (Ibu Raya) yang kebetulan kerabat pemilik hotel Lewoleba juga akan ke pelabuhan ferry Waijarang dan saya bisa ikut dengan mobil hotel yang mengantarkan beliau. Sesampai di pelabuhan, barang2 kami (Ibu Raya bawa 8 kardus dan 3 karung beras, saya hanya ransel) diangkut porter pelabuhan ke dalam ferry. Dan kami tiba agak telat sehingga semua matras tipis ala ferry sudah habis diambil oleh penumpang yang lain. Kami pun tidak mendapat tempat di bagian dalam dan atas karena sudah penuh. Jadilah saya dan Ibu Raya menghampar di dekat motor2 dan menjadikan barang2 kami sebagai sandaran. Saya sempat ke pelabuhan untuk foto2 sebentar...

Jam 9 malam kurang sedikit, ferry bertolak dan petugas mulai memungut biaya tiket Rp 58rb/orang. Udara malam mulai mendingin, dan saya memakai kaos dobel untuk menghalau udara dingin. Karena saya tidak mempunyai alas tidur apa2 namun masih mempunyai jaket, saya memberikan syal saya untuk menutupi kepala ibu Raya.
Karena kenal dengan Kepala Mesin ferry tsb dalam perjalanan saya ke Larantuka tahun lalu untuk menghadiri Paskah, saya mencari beliau dengan harapan mendapatkan tikar esktra. Ternyata beliau malah mengajak ngobrol di dek atas kapal persis di depan ruang kemudi kapal. Dan saya mendapatkan sekaleng fanta gratis, kami ngobrol tentang politik dan isu-isu global sampai jam 10 malam. Si perwira yang sedang bertugas menawarkan saya tidur di kamarnya gratis (biasanya penumpang lain bayar Rp 200-300rb untuk mendapatkan kamar ABK). Saya awalnya segan karena tidak enak, tapi dia bilang tidak apa-apa. Jadi akhirnya saya tidur di tempat tidur si Bapak perwira yang bersih dan seprei, sarung bantal dan selimutnya bersih dan wangi. Saya ingin mengajak Ibu Raya, tetapi ukuran tempat tidur yang kecil sekali membuat saya ragu apakah muat atau tidak, sementara untuk tidur di lantai tidak mungkin karena beberapa kali saya terbangun ketika ada ABK yang masuk untuk mengambil dokumen dan barang2 keperluan kapal. Saya menengok sebentar keadaan Ibu Raya dan ternyata dia baik2 saja. Akhirnya karena sudah terlalu lelah dan pinggang saya sakit, saya tidur nyenyak di dalam kamar perwira itu.

Hari 7 : Lewoleba - Alor (Baranusa dan Kalabahi) - selesai
Jam 5 lewat saya sudah terbangun, karena ingin memburu sunrise. Saya segera naik ke geladak dan minta ijin ke juru mudi kapal yang ada untuk naik ke dek atas. Karena melihat saya kenal dengan beberapa ABK termasuk perwira kamar mesin yang mengajak saya ngobrol semalam, beliau memperbolehkan. Saya segera foto2, dan tidak beberapa lama kemudian disuguhi teh hangat oleh seorang ABK. Thanks God :)
































Kami tiba di pelabuhan Baranusa tepat jam 7, Ibu Raya mengajak saya turun dan membeli ikan dan jagung titi. Saya mengikutinya karena saya ingin foto2 sambil mencari hal menarik yang bisa dibeli :)
Saya sampai pada penjual ikan yang juga menjual cumi raksasa (ukurannya agak lain dengan yang biasa) dan cuma dihargai Rp 40rb - murah banget!

Saya akhirnya membeli madu asli yang ditaruh di botol kecap dan disumpal dengan bongkol jagung seharga Rp 50rb/botol. Karena mendengar peluit kapal dibunyikan saya akhirnya cepat-cepat kembali ke kapal dan bertemu dengan ibu Raya yang tidak jadi membeli apa2. Kami tiba di Kalabahi jam 1 siang dan berpisah di pelabuhan sementara saya naik ojek ke kost. Berakhirlah liburan backpacking saya kali ini.... :)

Tips dan rekomendasi:
Penginapan dan makan
- Kalau mau irit dan ngga susah2 mendaki lebih baik tinggal di Abel Homestay karena terletak di pinggir jalan. Kamar yg Rp 75rb (kamar mandi dalam) sebenarnya bisa untuk berdua krn ukuran tempat tidurnya besar.
- Kalau suka view sunrise dan siap mendaki bisa tinggal di homestay Guru Ben, cuma kayanya bisa nawar deh. Soalnya kemarin saya udah malas nawar dan faktor kasihan karena sepi, akhirnya iyain aja Rp 80rb/hari. Selain itu saya dimasakin daging paus dan hiu, kurang tau di homestay Abel dapat menu istimewa ini ga ya?
- Bisa juga datang ke rumah2 nelayan untuk tinggal bersama mereka (tapi ya tolong kasih sedikit uang untuk biaya makan kita karena tidak ada warung di Lamalera) - bisa dengan bapak Frans Kedang, bapak Mikael Gorang Keraf (tanya aja rumahnya, karena ada di pinggir jalan).
- Harga2 minuman dan aqua botol sangat mahal di Lamalera (Aqua Rp 10rb/botol besar, YouC Rp 10rb/botol, dll) jadi mending beli di Lewoleba.

Suvenir

- Kalau ditawarin ikan pari kering per lembar Rp 25rb jangan mau, biasanya harga Rp 10rb/lembar.
- Harga tulang paus per kilo Rp 2-5rb. Nawar aja, kadang dapat gratis :)
- Minyak paus sebotol bir/kecap Rp 10rb di Lamalera, di Lewoleba bisa kena Rp 25rb.
-Cincin gigi orca mulai dari Rp 200rb/cincin di saudara bapak Stephanos Bataona, kalo di Bapak Bernardus Tapaona Rp 1juta/cincin -- gubraks harganya ngemplang abis...mending beli cincin emas deh!

Angkutan
- Ferry Kupang - Lewoleba ada setiap Senin dan Kamis, berangkat sore biasanya dari Lewoleba untuk jelasnya tanya kantor ASDP saja
- Ada kapal motor dari Adonara - Lewoleba setiap hari, cegat di pelabuhan Lewoleba aja Rp 10rb/ orang/ trip.
- Ferry Namparnos berangkat hari Minggu siang dari Larantuka dan sampai di Lewoleba jam 5 sore, telp saja juru mesinnya : pak Ian (0813 380 817 64) atau nahkodanya (0812 4614 7817).
- Ojek dari Lewoleba - Lamalera : Rp 100rb/jalan, jadi mending naik truk Rp 25rb/orang (bisa bawa barang sebanyak2nya)

Labels: , , , , , , , , , , ,